Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Februari 2019

Cerpen Cukup Umur Islami Terbaru - 'Kusambut Hijrahmu Keke....'

Cerpen Remaja Islami Terbaru - 'Kusambut Hijrahmu Keke....'
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam,” jawab Keke, si kembar cuek. Masih tetap dengan gaya ngoboynya, celana pendek dan kaos oblong. Itulah pakaian kebangsaan mereka sehari-hari, si kembar Keke dan Kiki. Tapi itu dulu sebelum Kiki faham Islam.

Di mana-mana saudara kembar kurang lebih sifat dan sikapnya hampir mirip, begitu pula Keke dan Kiki. Mereka sama-sama tomboy, terlebih Kiki. Keke cenderung agak kaleman dikit, walaupun nggak beda jauh. Kesukaan mereka sehari-hari manjatin pohon jambu air dan mangga depan rumah jikalau lagi berbuah, main layang-layang di atas genting, perang-perangan, mobil-mobilan dan lain-lain. Pokoknya permainan cowok, mereka mahir. Mainan cewek, anti banget deh. Menurut mereka berdua main sama cewek nyebelin, habis dikit-dikit nangis. Beda banget jikalau main sama cowok.

Tapi bukan berarti mereka nggak pernah nangis lho. Tapi nangisnya bukan alasannya yakni dipukul, namun bila kakak semata wayang murka dan ngancam nggak boleh main lagi sama teman-teman cowoknya. Baru sesudah ibu turut campur, kakak kesudahannya mencabut keputusannya. Tapi jangan menganggap kakak jahat lho, bahkan lantaran sayangnya sama adik kembarnya, kemana-mana mereka selalu diajak. Cuma ke toilet aja yang enggak. Beda umur tiga bersaudara itu, kakak dan si kembar Keke dan Kiki tuh cuma tiga tahun. Hingga jadilah mereka menyerupai ini. Bapak dan ibu sih enggak terlalu ambil pusing, yang penting mereka rukun.

Segalanya mulai berubah terutama bagi Kiki, tatkala menginjak dingklik SMU. Keke diterima di SMU negeri sedangkan Kiki gagal meski nilai ujian masuk mereka cuma beda koma. Saat itulah Kiki kembali menangis, semenjak empat tahun yang kemudian ketika tangisan mereka tertumpah untuk maut kucing kesayangan yang tertabrak mobil.

Saat itu Kiki tidak sanggup membayangkan berpisah dengan saudara kembarnya, walaupun cuma sekolah. Mereka telah terbiasa bersama-sama. Tapi itulah yang terjadi. Keluarga mereka pun bukan tipe yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Tidak diterima SMU Negeri ya SMU swasta resikonya. Saat itu Keke menghibur saudara kembarnya itu bahwa sekolah swasta juga tidak kalah elok mutunya dibandingkan dengan sekolah negeri. Akhirnya Kiki sekolah juga dengan berat hati demi mengejar selembar ijazah.

Wajah Keke selalu ceria tiap berangkat sekolah, terlebih sesudah masuk anggota Pecinta Alam (PA) sekolahnya. Kiki hanya sanggup gigit jari lantaran ekskul yang sama di sekolahnya sama sekali nggak maju dan cenderung hidup enggan mati pun tak mau. Hingga suatu hari Jum’at, Keke minta berangkat lebih awal lantaran akan ada latihan perhiasan dan pembekalan anggota PA di sekolahnya. Karena kakak nggak mau bolak-balik nganterin Keke, terus balik lagi nganterin Kiki ke sekolah, maka dengan terpaksa Keke ikutan berangkat lebih awal (Keke dan Kiki sama-sama masuk siang soalnya).

Seperti dugaan Kiki, ketika tiba di sekolah suasana masih sepi. Teman-teman belum pada datang, sedangkan kelas dua dan tiga lantaran hari Jum’at, mereka pulang lebih awal. Hanya ada sebagian siswa putra duduk-duduk dekat AULA sekolah sambil menunggu sholat Jum’at dimulai. Daripada termangu sendirian, Kiki memutuskan untuk melihat-lihat mading rohis dekat musholla. Ternyata di sana ada Rina dan Zaza.
“Tumben Ki, tiba lebih awal,” sapa Zaza.
“He eh,” jawab Kiki pendek.
“Kalian sendiri ada program apa di Musholla?” lanjutnya.
“Lho tiap Jum’at kan ada pengajian putri,” jawab Zaza sambil melepas sepatunya.
“Ikutan yuk!” ajak Rina.
“Malas ah. Paling juga isinya cuma ceramah perintah sholat, zakat, puasa. Kalau itu sih Kiki juga udah tahu.”
“Eh Kiki, belum apa-apa sudah su’udzon. SMU tuh bukan lagi bahan itu, anak SD juga tahu jikalau cuma begituan. Sekarang tuh materinya pendalaman wacana Islam, menyerupai pembahasan mengenai tujuan hidup, perang pemikiran, mengetahui siasat musuh Islam dalam upayanya menjauhkan kita dari islam yang sebenarnya, cukup umur ngomong politik, cara berpakaian muslimah dan tata cara pergaulan dan lain-lain. Tuh, kau termangu kan.”
“Pokoknya ditanggung baiklah deh,” timpal Rina.
“Kalau enggak?” tanya Kiki setengah ragu.
“Dicoba dulu gres beli,” promosi Zaza dan Rina menirukan iklan di TV.

Sejak dikala itulah Kiki jadi rajin ke rohis. Hingga satu hari, beberapa ahad sesudah aktif ikut kajian, Kiki jadi tahu bahwa jilbab dan kerudung yakni pakaian muslimah

Sejak dikala itulah Kiki jadi rajin ke rohis. Hingga satu hari, beberapa ahad sesudah aktif ikut kajian, Kiki jadi tahu bahwa jilbab dan kerudung yakni pakaian muslimah. Dan bukan kaos oblong plus celana pendek menyerupai pakaian kebangsaan mereka sehari-hari itu. Kiki pun butuh waktu untuk memahami serta merubah seluruh hal dalam hidupnya. Hobi panjat pohon mangga depan rumah, ikut main bola dan layang-layang di lapangan sebelah, bahkan kadang laga juga sama anak tetangga. Tapi itu juga kalo terpaksa kok.

Sedikit demi sedikit Kiki mulai beli kerudung diam-diam. Menjahitkan baju untuk jilbab, baju panjang saluran hingga menutup kaki plus kaos kakinya juga. Hingga satu malam, ketika papa, mama, Keke, dan kakak mereka, Koko kumpul di ruang makan, Kiki merasa kini saatnya.

“Ma, Pa, Mas Koko, dan juga Keke, ada yang ingin saya infokan. Insya Allah mulai dikala ini, Kiki akan istiqomah menggunakan kerudung dan jilbab bila keluar rumah.”

Suasana hening.

“Alhamdulillah, syukurlah jikalau Kiki memang ingin berjilbab,” bunyi mama terdengar lega. Beliau memang yang paling khawatir dengan perkembangan putri kembarnya yang cenderung tomboy dan cuek. Keputusan Kiki disambutnya dengan suka cita.

“Papa juga mendukung jikalau memang itu sudah keputusan Kiki. Cuma satu yang papa pesan, sesudah berjilbab tolong dijaga perilaku dan tingkah lakunya. Papa gak suka lihat berjilbab tapi norak.”


“Wah…Kiki jadi kayak ninja dong nanti,” protes kakak semata wayang, Koko.
“Kok kayak ninja?”
“Iya, semua tertutup kecuali matanya aja. Udah gitu, warnanya item-item bajunya. Persis ninja kan.”

“Wajah dan telapak tangan bukan aurat, jadi nanti Mas Koko tetap sanggup lihat wajah Kiki. Lagipula jilbab dan kerudungnya nanti juga bakal warna-warni tapi tetap syar’i kok. Jangan khawatir,” terang Kiki sambil tersenyum. Pandangannya beralih ke saudara kembarnya yang hambar (atau pura-pura-kah?) dengan semua percakapan wacana keputusannya menutup aurat.

“Keke, is there something you wanna say, sis?” menyerupai biasa bahasa Inggris terselip di antara percakapan mereka.

“No comment aja. Suka-suka kamulah,” jawab Keke singkat sambil terus mengunyah ayam goreng di mulutnya. Kalimat itu terdengar hambar dan suka-suka menyerupai kelihatannya, tapi Kiki menangkap ada nada lain di bunyi saudara kembarnya itu. Dengan sayang, dipandangnya Keke di seberang meja yang terus asyik dengan ayam goreng di tangannya. Apa yang ada di benak seseorang yang serasa satu hati dengan dirinya itu? Mereka tak terbiasa berbeda, dan tetap terselip rasa ‘aneh’ itu ketika kesudahannya Kiki memutuskan untuk berbeda dari sebelumnya.

Di kamar tidur sesudah makan malam, Keke tengkurap di ranjangnya sambil mengerjakan PR. Headset walkman pun menutupi kedua telinganya. Sejak kejadian di meja makan itu, selalu begitu perilaku Keke bila di dalam kamar. Kiki yang sekamar dengannya, tak ada kesempatan buat ngobrol dan berbincang dengannya. Bagaimana pun Keke juga berhak tahu wacana detil keputusannya. Dan bila memungkinkan, ingin rasanya Kiki mengajak saudara kembarnya itu untuk sama-sama ‘hijrah’, berubah jadi yang lebih baik.

Dihampirinya Keke di ranjangnya, disentuhnya pundak itu.

“Gue sibuk Ki, eluh urusin sendiri diri kau sendiri,” tanpa menoleh, Keke berkata ketus sambil terus mengerjakan tugasnya.

“Please Ke, akhir-akhir ini sikapmu menyerupai menganggapku tak ada di ruangan ini,” Kiki terpaksa merenggangkan headphone Keke biar suaranya terdengar. Dan benar, Keke melepasnya.

“Menganggapmu tak ada di ruangan ini? Masih mending kan itu hanya di ruang ini. Tapi kau Ki, kau menganggap saya tak ada dalam kehidupanmu,” tandas Keke sebelum keluar ruangan dan membanting pintu di belakangnya. Kiki termangu dengan rasa murung yang tak terhingga.
****

Siang itu Keke pulang sekolah diantar oleh sahabat cowoknya. Ia pun dibonceng di belakang motor dengan posisi duduk anak perjaka sehingga rok sekolahnya tersingkap. Kiki yang pulang sekolah lebih awal lantaran ada rapat di sekolahnya, terkesiap melihat kembarannya. Mereka memang tomboy, tapi mereka tak gampang untuk dibonceng perjaka sedemikian rupa. Ketomboy-an seharusnya makin membuatnya mandiri.

Cowok itu menunggu di depan rumah dan tidak turun dari motornya. Sepertinya sedang menunggu Keke. Benar saja, beberapa menit kemudian Keke keluar dengan celana pendek dan kaos oblong.

“Mau ke mana Ke?”

“Bukan urusanmu,” jawab Keke ketus sambil naik membonceng lagi di motor itu. Tangannya melingkar di pinggang perjaka itu, seolah-olah ingin bersikap over react di depan Kiki, saudara kembarnya. Kiki pun beristighfar di tengah kepulan asap knalpot yang tersisa. Kiki tahu Keke, menyerupai ia memahami dirinya sendiri. Mereka yakni satu, terlepas ada perbedaan yang semakin meruncing akhir-akhir ini.

Keke pulang larut malam itu. Masuk kamar eksklusif rebah di ranjang.

“Sudah sholat Ke?” Tanya Kiki berusaha bersahabat. Tak ada balasan dari Keke, seolah-olah tak ada bunyi yang mengajaknya berbicara. Ia tidur menghadap tembok tanpa berganti pakaian. Dengan sabar Kiki menghampiri ranjang Keke dan menyelimuti badan itu dengan kain. Sebelum beranjak, berusaha dikecupnya kening saudaranya itu. Keke melengos dan menutup wajahnya dengan bantal.

Di sepertiga malam, ketika Kiki berkemas-kemas untuk sholat tahajud, didengarnya bunyi isakan yang sangat lirih. Keke menangis? Setengah tak percaya Kiki menajamkan pendengarannya sebelum melangkah ke ranjang Keke. Disentuhnya pundak itu. Diam. Tak bergerak. Ada alunan lembut pundaknya dari hembusan nafas yang dihirup dan dihembuskannya lagi. Dilihatnya Keke tidur dengan tenang, meski masih tetap menghadap dinding. Kebiasaan gres Keke semenjak Kiki memutuskan berubah.


Lalu bunyi isak siapakah tadi? Setelah termenung beberapa saat, Kiki memutuskan beranjak untuk sholat. Diciumnya pipi saudara kembarnya itu sebelum pergi. Basah. Berarti isakan tadi bukan hanya di benaknya saja. Keke menangis sebelum tertidur. Ada yang lembap di mata Kiki. Apa yang membuatmu sedih, saudara kembarku? Bisiknya lirih. Aku ingin kita sanggup dekat menyerupai dulu lagi. Aku ingin kita melangkah bersama dan berubah untuk kebaikan bersama pula, sama menyerupai kita selalu bahu-membahu semenjak dalam kandungan. Apa yang membuatmu bertahan untuk tak mau berubah? Dikecupnya kening Keke dan dibisikkannya ‘aku sayang kamu, Ke’.
******

Keke kecelakaan!
Berita itu cukup menggoncang Kiki ketika pulang sekolah didapatinya rumah sepi dan hanya ada pembantu yang memberitahunya. Dengan kalut ditelponnya taksi untuk mengantar ke rumah sakit kawasan Keke dirawat. Mas Koko dan mama ada di sana pula. Papa kebetulan lagi dinas luar kota dan sudah dikabari untuk segera pulang.

Syukurlah luka Keke tak begitu parah. Goresan di lutut saja yang cukup parah meski tak hingga patah. Kemudian lengannya lecet-lecet, dan benturan sedikit di kepalanya. Untungnya helm yang digunakan Keke cukup besar lengan berkuasa menahan kepalanya sehingga tak ada luka serius. Dikecupnya kening Keke dengan penuh sayang. Tak sengaja pandangan Kiki terarah ke bungkusan di samping ranjang Keke. Dibukanya. Kerudung biru. Kerudung? Apakah Keke…? Dipandangnya saudara kembarnya itu, dengan setengah tak percaya. Tiba-tiba ada rasa bersalah yang menggumpal dalam dada Kiki.

Betapa Kiki gres menyadari bahwa selama ini ia telah menelantarkan saudara kembarnya sendiri. Dirinya sibuk dengan begitu banyak acara di sekolah dan rohis. Ia hanya ingin Keke berubah menyerupai dirinya tanpa ada upaya untuk membimbingnya. Dan kini…Keke harus terluka untuk sebuah niat suci yang tak pernah ia tahu andai kejadian ini tak terjadi. Digenggamnya jemari Keke, dikecupnya. Dibisikkan lirih di pendengaran belahan jiwanya itu ‘maafkan aku’.

* TAMAT *

Semoga sahabat Kumpulan Kata Mutiara Cinta Remaja ya.

Jumat, 11 Januari 2019

Cerita Kisah Islami Untuk Motivasi Hidup - Supaya Aku Yang Bayar

Cerita Kisah Islami Untuk Motivasi Hidup - Biar Saya Yang Bayar. Pada dasarnya insan mempunyai cita-cita berpengaruh untuk membantu sesama. Dan percayalah ini tidak akan mengurangi sedikitpun hartanya. Pasti akan diganti Yang Maha Pemberi. Cerita Islami untuk Motivasi ini hanya sebagian dongeng indah kemanusiaan. Cerpen Remaja Islami Terbaru ya.
Cerita Kisah Islami Untuk Motivasi Hidup CERITA Kisah Islami Untuk Motivasi Hidup - Biar Saya Yang Bayar

Setelah selesai shalat 'Isya dan sunnah ba'diyah, sebagian besar jamaah Masjidil Haram berbondong-bondong ke luar. Ada yang pribadi pulang ke pondokan dan ada juga yang mampir dulu di pusat-pusat perbelanjaan di sekitar masjid.

Pengunjung pusat-pusat perbelanjaan masih tetap ramai, walaupun sebagian jamaah haji sudah pergi meninggalkan Makkah, pulang ke Tanah Air masing-masing atau ziarah ke Madinah.

Di antara kerumuman para pembeli di salah satu sentra perbelanjaan itu terdapat Pak Muhsin dari Indonesia. Dia sudah beberapa kali membolak balik sebuah sajadah buatan Suriah.

Dia sangat menyenanginya, tetapi sayang uangnya tidak cukup. Ini malam terakhir beliau di Makkah, alasannya yakni besok siang kloternya akan ke Jeddah untuk selanjutnya terbang kembali ke Tanah Air.

Sajadah buatan Suriah itu sangat bagus, tetapi sayang sekali uangnya tidak cukup. Dengan berat hati beliau pergi meninggalkan toko sajadah itu.

Walaupun Pak Muhsin sudah menjauh dari toko tersebut, tetapi pikirannya kembali melayang ke sana. Setelah memutari lantai dasar sentra perbelanjaan itu satu putaran, langkah kakinya kembali menuju toko sajadah itu.

Tangannya kembali memegangi sajadah itu sambil memegang uangnya yang tidak cukup itu. Tanpa disadarinya seorang Arab yang juga sedang memilih-milih sajadah di toko itu memperhatikannya.

Begitu sajadah itu beliau letakkan, tiba-tiba saja orang Arab itu mengambil sajadah pilihan Pak Muhsin, kemudian membayarnya dan menyerahkannya kepada Pak Muhsin sambil berkata: "Hadiah, hadiah…tafadhdhal!". Pak Muhsin sangat senang sekaligus terharu.

Sampai di Tanah Air, kejadian itu selalu beliau kenang, apalagi setiap beliau melihat sajadah hadiah dari orang Arab yang tidak beliau kenal itu. Dia ingin melaksanakan hal yang sama.

Dia ingin membahagiakan orang-orang yang sangat menginginkan suatu barang, tetapi tidak sanggup membayarnya. Tentu saja bukan barang-barang yang mahal harganya.

Demikianlah, pada suatu hari, sehabis melaksanakan shalat Zhuhur berjamaah di sebuah masjid, beliau mampir ke toko buku kecil di samping masjid langganannya.

Pada ketika beliau sedang melihat-lihat buku perihal Islam terbitan terbaru, tiba-tiba matanya tertuju kepada seorang paroh baya yang sedang memegang-megang sebuah buku tanya jawab agama. Buku itu semua enam jilid.

"Pak, apakah nanti ba'da Maghrib masih buka?" tanyanya kepada penjual buku. Penjual buku menjelaskan pukul 16.00 tokonya akan tutup.

"Bapak kembali besok pagi saja." Kata penjual buku itu. "Wah sayang sekali besok pagi saya sudah kembali ke daerah", kata calon pembeli buku itu sambil beranjak pergi pelan-pelan.

Pak Muhsin kembali ingat kejadian di Mekkah tempo hari. Segera saja beliau bilang sama penjual buku: "Panggil Bapak itu kembali, dan serahkan buku itu sebagai hadiah. Biar saya yang bayar".

Bapak dari tempat itu kaget dan senang, tidak beliau duga ada yang berbaik hati mau membayarkan enam jilid buku yang diinginkannya. Buku tanya jawab agama ini sangat beliau perlukan dalam berdakwah di daerah.

Pak Muhsin sanggup mencicipi kebahagiaan bapak yang tidak beliau kenal itu, menyerupai kebahagiaanya waktu di Makkah dulu. (Oleh: Prof Dr Yunahar Ilyas).

Sungguh dongeng yang mengharukan Cerita Islami Pembangkit Motivasi Semangat di atas. Berbuat baik itu tak mengenal ruang dan waktu. Lakukanlah...

Sabtu, 17 November 2018

Cerpen Valentine Islami Dongeng Pendek Cinta Dewasa - Ketika Hari Valentine Tiba

Cerpen Valentine Islami Cerita Pendek Cinta Remaja Saat Hari Valentine Tiba. Sebentar lagi tanggal 14 Februari. Bagi sebagian remaja, tanggal ini dianggap tanggal yang sempurna untuk mencurahkan cinta kasih. Agak lucu juga ya alasannya bukankah sebaiknya ungkapan cinta atau sayang itu tidak mengenal ruang dan waktu :) Sebelum membaca Cerpen Valentine Islami Cerita Pendek Kisah Cinta Remaja ini, semoga sobat berkenan untuk melihat Tips Buat Jomblo Anti Galau di Hari Valentine Ga Punya Pacar.
Cerpen Valentine Islami Cerita Pendek Cinta Remaja CERPEN VALENTINE ISLAMI Cerita Pendek Cinta Remaja - Saat Hari Valentine Tiba

14 Februari 2001

Met Valentine, I Miss U!Sebuah kartu dari andra. Ada sekotak coklat dan sebuah boneka warna pik. Balon-balon beraneka warna menghiasi ruangan. Aku, Andra dan eman-teman sekelasku merayakan hari valentine ultahku di kos-an Mita tetangga Andra. Ah… saya suka kejutan ini, saya jadi tambah sayang sama Andra.

14 Februari2002

Kekasihku, Met Hari Valentine, I Love You So Much!

Selembar kartu pink dan sebuah boneka panda berwarna merah jambu tergolek elok di meja belajarku. Dari siapa? Yap! Tentu saja dari yayangku alias doiku! Em… tuh doi emang romantis banget, ah…. Indahnya! Terasa dunia milik berdua!

14 Februari 2003

Dear, selamat ulang tahun, semoga cinta kita abadi.Setangkai bunga mawar terselip dikartu pink itu. Kata-kata puitis terangkai rapi di sana. Mengurai asa yang ada, mencetak ingatan akan sebuah nama. Andra. Laki-laki yang telah melabukan hatinya padaku semenjak dua tahun yang lalu. Dengan segenap perasaan yang ada, saya mengucapkan kata : Andra… I love you too!

14 Februari2004

“Halo, Assalamu’alaikum. Bisa bicara dengan Dinda?” tanya bunyi diseberang. Deng! Hatiku terasa berdebar-debar, mungkinkah……“Wa’alaikumsalam. Ya… ini Dinda, dari siapa?” saya balik bertanya, walau saya sanggup menebak ini bunyi siapa. Namun saya tak yakin bila beliau masih menghubungiku!“Din, ini aku, Andra! Masa sih lupa? Met hari kasih sayang! Semoga makin disayang ama orang-orang di sekitarmu. Met Valentine!”

Hah? Hatiku pribadi berdebar keras! Andra masih mendoakanku? Itu artinya ia masih perhatian dong! Aku terbuai, saya tersanjung dengan kata-katanya. Kuakui ini ialah salah satu kelebihan Andra, berilmu ‘mengambil hati’ dan merayu! Sekuat tenaga kutekan rasa senang yang hadir di hati ini.

“Makasih atas perhatiannya. Masih ada lagi?” suaraku mulai tak lezat didengar. Ah… entahlah kekuatan dari mana saya sanggup merangkai kata-kata itu pada Andra yang dulu telah mengisi hari-hari suramku sebelum saya tetapkan untuk hijrah!

Ya, gres satu tahun yang lalu, sesudah melalui pergolakan batin yang seru! Sangat sulit untuk memilih, untuk mengambil keputusan bahwa saya harus segera mengamalkan konsep-konsep pergaulan dalam Islam, sampai saya harus berbenturan dengan realita: tetap pacaran atau mengamalkan Islam secara kaffah!

“Kok membisu sih? Duu, segitu aja marah! Eh, Din kita ke Kabayan yuk, ngerayain Hari Valentine!” ajak Andra menyebutkan rumah makan khas kuliner Sunda yang letaknya berhadapan dengan Masjid Jamik garapan arsitektur Presiden Sukarno tempo dulu..“Andra, kita sudah berjanjikan? Kamu mau menghargai prinsipku sekarang. Kita nggak pacaran lagi, lho! Ingat itu!” jawabku tegas. Aku semakin tegang!“Ya, saya ingat kok kesepakatan itu, tapi apa salahnya sih kita cuma makan doang kok! Mau ya, saya yang traktir!” rayu Andra. Aku mulai kesal menganggapi dialog Andra.“Masalahnya bukan alasannya cuma makan atau tidak, tapi saya takut fitnah dan nggak mau berdua-duaan dengan kamu, paham?” ujarku bernada tinggi.

“Ee, Din, jangan ekstrim gitu dong! Kenapa sih semenjak berjilbab kau menolak ajakanku?”“Ndra… udah ya, saya mau buat tugas,” saya mencari alasan untuk tetapkan pembicaraan yang sudah ngelantur ini.

“Nanti dong, Din, saya masih kangen nih!” ujar Andra enteng.Deg! Detak jantungku semakin memburu, hatiku berbunga, tubuhku terasa ringan melayang, saya bahagia!

“Ndra, saya masih banyak kiprah udah ya, Assalamu’alaikum!” ujarku tanpa menunggu kata oke dari seberang. Kutaruh horn, saya semakin tak karuan. Ah… Andra, lupakanlah aku, dongeng kita hanya kepingan dari masa lalu. Sekarang saya sudah hijrah! Aku berjilbab dan anti pacaran.

14 Februari2005

Just for you my lady.Met Valentine. I still loving you.Kata-kata bernada romantis itu berderet rapi dilayar komputer saat saya membaca email dari Andra. Dari mana beliau tahu email-ku? Ah kenapa Andra masih saja mengucapkan hari valentine, padahal berulang kali kuingatkan untuk tidak ikutan merayakan hari kematinan St. Valentino itu. Hari kasih sayang tak cuma tanggal 14 Februari, tak perlu coklat atau warna pink. Aku masih membuka inbox, berikutnya, saya sengaja menentukan membuka email berjudul: “Hanya Untukmu”, dari siapa yah? Aku penasaran!

Apakabar Mbak Din?. Ini Vany, saya sobat sefakultas dengan Mas Andra. Mas Andra banyak ngomongin mbak lho! Kata Mas Andra, bekerjsama beliau masih C lho ama mbak, apa mbak nggak C lagi? Mbak ngertikan maksudku?

Aku berhenti sejenak. Apa arti C? apakah artinya Cinta? Chayang? Mungkin… dan itu ialah arti yang sangat pas menurutku. Jadi… Andra belum sepenuhnya melupakanku? Masih berharap saya kembali?

Hanya itu isi pesan dari Vany_25@yahoo.com email-nya. Aku jadi penasaran! Siapa sih Vany? Aduh…. Mengapa hatiku jadi begini? Sepertinya…. Aku mulai menikmati serangkaian perhatian Andra, ah… Andra, biarkan saya melangkah dengan prinsipku, kita lupakan masa kemudian kita. Aku sudah hijrah! Aku bukan yang dulu lagi! Kita tak pantas selingkuh hati pada sang Khalik.

14 Februari2006

“Mbak Din, ada surat buat mbak nih!” teriak Tia adik bungsuku dari ruang tamu. Aku masih sibuk membereskan kamarku.“Thank’s ya adik manis” ujarku pada Tia. Tak sabar saya pribadi membuka surat beramplop biru ini tanpa alamat pengirim!

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Ba’da Tahmid Wa Shalawat.

Afwan Ukhti Dinda bila kehadiran surat ini menganggu. Mungkin ini ialah surat ukhuwah biasa dan ana harap anti tidak tersingung maupun mengira yang tidak-tidak terhadap kehadiran sepucuk surat tak berarti ini.Ukhti. Dinda. Sekarang ana telah hijrah dan sedang berusaha mengenal Islam lebih jauh. Semua ini semenjak ana aktif menhikuti Kajian di Mushola kampus beberapa bulan terakhir. Maafkan atas perilaku ana selama ini yang telah menciptakan hati-hati kita menjadi terkotori, afwan sekali lagi. Semua terjadi alasannya ketidaktahuan ana terhadap batas-batasan pergaulan laki-laki dan perempuan dalam Islam. Tapi…. Setelah ana mengenal Islam lebih jauh, ana merasa aib terhadap anti, terutama kepada Allah.Demi menjaga silaturahmi, sekali lagi ana mengucapkan mohon maaf atas kekhilafan ana selama ini. Ana berharap anti akan memaafkan dan melupakan kebodohan ana selama ini.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb

Andra.

Aku menangis! Aku…. Terharu, Andra jadi ikhwan? Aktivis Rohis? Duh…. Rabbi, saya senang sekali…. Andra risikonya termasuk barisan memperjuangkan kalimah-Mu!Mengapa tiba-tiba perasaanku menjadi hampa? Mengapa ada rasa kehilangan? Ada apa dengan hatiku? Ahhh…. harus kuakui ternyata saya masih menyimpan sekeping asa itu! Rabb, maafkan aku, tak sepantasnya saya terlalu berharap pada lawan jenisku. Rabb…. Maafkan hamba!Tiba-tiba saya sangat rindu dengan hari-hari pertama hijrahku! Saat hati kian berdebar menyebut Asma-Mu. Ya, Rahman, saya akan kembali menata hatiku. Aku janji!

Karya: Naqiyyah Syam (http://www.kompasiana.com/naqiyyahsyam)

*****

Bagaimana sobat menarik sekali ya membaca Kisah Cerpen Valentine Islami Tentang Remaja di atas. Semoga ada pesan yang tersirat yang sanggup dipetik dan dijadikan pelajaran hidup. Baca juga artikel menarik lainnya Kumpulan Kata Kata Cinta Remaja Gombal.

Minggu, 04 November 2018

Cerpen Kisah Cinta Motivasi Bakir Balig Cukup Akal - Rara Dan Ketulusan Cinta

Cerpen Cerita Cinta Motivasi Remaja terbaru - Cinta itu dari dalam hati dan penuh ketulusan. Tidak memandang bahan atau kekayaan. Janganlah menilai seseorang menurut kondisinya sekarang. Kita tidak tahu bagaimana nasib seseorang di masa mendatang. Yang terlahir sebagai orang kaya belum tentu nantinya akan sesukses orang tuanya. Dan yang terlahir miskin tidak akan selamanya berada di posisi sekarang. Mudah-mudahan sobat Cerita Cinta Mengharukan Kisah Remaja Terbaru posting sebelumnya.
Cerpen Cerita Cinta Motivasi Remaja terbaru CERPEN CERITA CINTA Motivasi Remaja - Rara dan Ketulusan Cinta

“Hebat…masih muda tapi sudah kaya,” begitu kata Mama ketika ia melihat Candra yang mendatangiku dengan membawa Mercy entah kelas apa, dan Mama demikian mengagumi Candra.

“Jadi definisi mahir Mama begitu ya, kalau sudah ada yang bawa kendaraan beroda empat Mercy, berduit, lantas beliau jadi mahir di mata Mama”...Aku menjawab dengan sedikit sindiran, Mama memang sedikit materialistis, apalagi semenjak Papa pensiun dari pekerjaannya. Mama sangat cemas dengan masa depanku apabila dipersunting oleh lelaki tak berstatus.

“Hello tante, usang gak jumpa…” Candra bersalaman sembari melirik ke arahku dengan lagak lelaki paling dipuja seluruh wanita..

“Hai Rara, kau makin elok aja…oh ya, buat yang perempuan secantik kamu, saya tak sembarangan memberi hadiah…” Ia menyerahkan padaku sebuah bingkisan kecil, ku yakin isinya ialah cincin berlian yang memang sudah dijanjikannya ketika ia masih di Swiss. Aku tak kaget, alasannya ialah cincin ini bukan yang pertama, sudah belasan jumlahnya di kamar, tak satupun kusuka, mungkin kalau semua kugunakan, cukup untuk menghias setiap jari di badan mulai dari tangan sampai kaki.

“Oh…terima kasih..” saya menjawab datar, alasannya ialah mesti bagaimana lagi..
Sebentar berbasa-basi kemudian Mama mempersilahkan Candra masuk ke dalam ruang tamu kami, Candra hanya senyum-senyum, barangkali ia berpikir telah menaklukkan Mama…huh, mungkin iya, tapi hati ku tidak!! dan tak akan!
Aku masih cinta pada lelaki sederhana dalam ketiadaannya, dan ketulusannya menyayangi aku.
****

Oke, di sinilah saya sekarang, duduk di dalam kendaraan beroda empat dan mendengarkan dongeng bergelimang harta oleh Candra. “Sayang, kemarin Papa habis dari Vietnam, kau tahu gak, saking Papa kaget ngeliat gajah Vietnam yang dapat masuk kota, papah kepengen beli tuh gajah buat di awetin, trus dipajang di ruang tamu rumah, hahahaha…” Candra benar-benar garing, saya hanya tak mau mengecewakan Mama sampai saya harus jalan dengannya. Belum lagi dongeng yang selalu diulang-ulang mengenai silsilah keluarganya yang merupakan keturunan Raja di Magelang dan kedekatan Ayahnya dengan para pejabat.

Aku bosan dan sedikitpun tidak mau menjadi bab penting dalam hidupnya. Dan satu lagi, perlu juga saya jelaskan bahwa saya bukan pacarnya, dan omongan sayang yang ia ucapkan telah berkali-kali kuprotes dan tetap tak diubah olehnya, sampai karenanya saya lelah dan merelakan ia panggil begitu.

Jujur, saya masih tak dapat melupakan lelaki paling biasa namun mengajarkanku banyak hal mengenai hidup, saya mengasihi dia..tulus.

****

Sudah pukul 10 malam ketika kendaraan beroda empat bergerak menuju belokan bersahabat rumahku dan di teras kulihat dia…
“Apaaa..Mama tidak mempersilahkan ia masuk sama sekali??” saya kaget dan bergumam cukup kencang di kendaraan beroda empat alasannya ialah tidak tega melihat ia berteman dengan nyamuk di teras redup kami, dan tak segelas air pun tersaji.
Seketika saya turun dari kendaraan beroda empat dan menghampirinya…

“Jay…maaf, kau kok enggak masuk?” saya bertanya dengan rasa bersalah yang mendalam, Jay ku…ia tak disenangi mama hanya alasannya ialah ia orang biasa tanpa silsilah keluarga, belum lagi harta yang tak ia punya.

“Engga apa-apa…aku bersama-sama ingin ngobrol dengan mama dan papa kamu”…kulihat tangannya menggigil, ia niscaya sudah menunggu di luar teras cukup lama.
Candra si sok kaya malah mencemooh “Mas, sepedanya boleh digeser ga? Bukannya saya ga mau nabrak, tapi saya ga mau kendaraan beroda empat saya lecet”…sindiran paling tajam dan paling menyakitkan yang pernah kudengar, ingin menangis hati ini melihat Jay dengan hening menggeser sepedanya dan memperlihatkan kesabaran…

Aku bersumpah demi Tuhan, tak akan menikahi lelaki moral tumpul macam Candra…
emosi ku tak tertahan juga akhirnya.
“MAMA…tega sekali Jay engga disuruh masuk dari tadi…kenapa sih Ma?” saya sambil mengetuk pintu dan berteriak melawan. Telah habis kesabaranku...
“Biarin saja beliau di luar..ga pantes orang kampung diterima sama Tante Indri…” kalimat yang ‘manis’ dari Candra si orang kaya nan miskin moral.
“Mama cape, kau suruh aja Jay pulang…” Mama kemudian menyahut dengan malas-malasan.

”Maaf tante, saya cuma sebentar..” Jay menjawab dengan pelan…
Aku ingin berteriak lebih kencang…”Ma…”
Namun terputus ketika terdengar bunyi dari dalam rumah yang sedang membuka pintu…
“silahkan nak Jay”…Papa kemudian mempersilahkan Jay masuk, saya kaget sekali, tak biasanya Papa memperlakukan orang-orang terdekatku dengan ibarat itu, Papa lebih banyak membisu ketiimbang memberi komentar mengenai korelasi pribadiku, tidak ibarat mama.

Lantas Jay masuk serta Candra duduk bersebelahan dengan Papa. Papa memang mengenalnya, namun sebatas itu saja, tak lebih… dan kalau agresi sok bersahabat yang Candra lakukan pada Papa, tentu itu improvisasinya…

“Apa yang perlu dibicarakan nak Jay…” papa bernada tenang.
“Aku ingin menikahi Rara pak..” Jay menjawab dengan sedikit kegugupan..
“HAHAHA…om, jangan-jangan beliau habis mabok atau kesambet setan waktu pake sepeda ke sini. yang niscaya mustahil om..” Candra menjawab dengan lantang dan angkuh.

Lantas Papa menjawab “Aku yang harusnya menjawab, bukan kamu. Karena bukan kau yang membesarkannya”. Jawaban itu sungguh dalam dan raut muka Candra berubah semerah-merahnya menahan aib dan marah, alasannya ialah mungkin ia gres kali ini direndahkan ibarat itu.

“Mengapa kau mengatakannya sekarang?” Papa bertanya dalam kapasitasnya sebagai seorang ayah. Aku bingung, senang, duka bercampur menjadi satu. Senang alasannya ialah lelaki penyabar itu karenanya benar ingin menikahiku, sesudah 5 tahun korelasi kami tanpa disetujui mama, dan belasan lelaki kaya yang dikenalkan mama padaku. Namun ia lewati semua itu dengan penuh sabar. Dia lelaki sesungguhnya untukku.

Ketika otakku sedang melayang, kembali kupusatkan konsentrasiku pada pembicaraan mereka: “Yang pertama alasannya ialah saya mengasihi Rara, yang kedua alasannya ialah saya yakin tak akan ada lelaki yang jauh lebih baik mendampinginya daripada aku, yang ketiga alasannya ialah beliau dan hanya beliau yang dapat mengisi hari-hariku…” balasan itu diberikan Jay tanpa keraguan sedikitpun.

“Aku dapat memperlihatkan lebih dan saya dapat menciptakan om dan keluarga kaya raya…” dan Candra karenanya berbicara… kemudian papa melihat Candra cukup lama…lantas berkata: “Keluarga ku lebih berharga dari harta, dan tak akan pernah pula tergadai alasannya ialah harta…” itulah balasan yang menciptakan Candra pergi.

Di dalam kamar terdengar bunyi Mama: “Pokoknya mama engga baiklah Rara nikah dengan Jay, beliau itu enggak punya apa-apa.. Mau ngasih makan apa nanti buat anak cucu kita pa?? Papa sadar donk…”

Jay hanya menunduk seolah aib dengan kondisi diri dan keluarganya yang miskin, saya duka sekali mendengar ucapan mama. Mama belakangan selalu mengecewakan, semenjak Papa pensiun dan penghasilan keluarga kami menurun drastis.

“Ma..lantas kita akan menjual anak kita demi harta, begitu maksud mama??” Papa berteriak kencang sekali sampai mama hanya dapat diam. Papa tidak pernah semarah itu sebelumnya. Dan mama....tak mampu lagi melawan omongan sang kepala rumah tangga…

“Karena saya Bapaknya dan alasannya ialah kau lapang dada mengasihi anakku, silahkan nikahi dia..” Papa karenanya menjawab, saya menangis terharu alasannya ialah sesudah sekian lama, karenanya korelasi kami benar-benar direstui. Dan ternyata papa benar-benar mengerti siapa lelaki yang sempurna untukku.

“Oh ya, satu hal lagi pak… Kalau bapak tidak keberatan, saya ingin menikahi Rara 4 bulan lagi, alasannya ialah terhitung Maret saya akan melanjutkan beasiswa sekolah ke Australia dan saya ingin mengajak Rara ikut serta…”

“Silahkan..” jawab Papa, dan kini ia semakin yakin bahwa pilihannya tepat.

Penulis: Valico

*****

Luar biasa ya Cerita Pendek Cerpen Cinta Motivasi Remaja di atas. Salut sama orang renta yang tidak memandang bahan atau kekayaan dan menghargai ketulusan cinta anaknya. If you believe ... Love will find the way...