Cerpen Cerita Cinta Motivasi Remaja terbaru - Cinta itu dari dalam hati dan penuh ketulusan. Tidak memandang bahan atau kekayaan. Janganlah menilai seseorang menurut kondisinya sekarang. Kita tidak tahu bagaimana nasib seseorang di masa mendatang. Yang terlahir sebagai orang kaya belum tentu nantinya akan sesukses orang tuanya. Dan yang terlahir miskin tidak akan selamanya berada di posisi sekarang. Mudah-mudahan sobat Cerita Cinta Mengharukan Kisah Remaja Terbaru posting sebelumnya.
“Hebat…masih muda tapi sudah kaya,” begitu kata Mama ketika ia melihat Candra yang mendatangiku dengan membawa Mercy entah kelas apa, dan Mama demikian mengagumi Candra.
“Jadi definisi mahir Mama begitu ya, kalau sudah ada yang bawa kendaraan beroda empat Mercy, berduit, lantas beliau jadi mahir di mata Mama”...Aku menjawab dengan sedikit sindiran, Mama memang sedikit materialistis, apalagi semenjak Papa pensiun dari pekerjaannya. Mama sangat cemas dengan masa depanku apabila dipersunting oleh lelaki tak berstatus.
“Hello tante, usang gak jumpa…” Candra bersalaman sembari melirik ke arahku dengan lagak lelaki paling dipuja seluruh wanita..
“Hai Rara, kau makin elok aja…oh ya, buat yang perempuan secantik kamu, saya tak sembarangan memberi hadiah…” Ia menyerahkan padaku sebuah bingkisan kecil, ku yakin isinya ialah cincin berlian yang memang sudah dijanjikannya ketika ia masih di Swiss. Aku tak kaget, alasannya ialah cincin ini bukan yang pertama, sudah belasan jumlahnya di kamar, tak satupun kusuka, mungkin kalau semua kugunakan, cukup untuk menghias setiap jari di badan mulai dari tangan sampai kaki.
“Oh…terima kasih..” saya menjawab datar, alasannya ialah mesti bagaimana lagi..
Sebentar berbasa-basi kemudian Mama mempersilahkan Candra masuk ke dalam ruang tamu kami, Candra hanya senyum-senyum, barangkali ia berpikir telah menaklukkan Mama…huh, mungkin iya, tapi hati ku tidak!! dan tak akan!
Aku masih cinta pada lelaki sederhana dalam ketiadaannya, dan ketulusannya menyayangi aku.
****
Oke, di sinilah saya sekarang, duduk di dalam kendaraan beroda empat dan mendengarkan dongeng bergelimang harta oleh Candra. “Sayang, kemarin Papa habis dari Vietnam, kau tahu gak, saking Papa kaget ngeliat gajah Vietnam yang dapat masuk kota, papah kepengen beli tuh gajah buat di awetin, trus dipajang di ruang tamu rumah, hahahaha…” Candra benar-benar garing, saya hanya tak mau mengecewakan Mama sampai saya harus jalan dengannya. Belum lagi dongeng yang selalu diulang-ulang mengenai silsilah keluarganya yang merupakan keturunan Raja di Magelang dan kedekatan Ayahnya dengan para pejabat.
Aku bosan dan sedikitpun tidak mau menjadi bab penting dalam hidupnya. Dan satu lagi, perlu juga saya jelaskan bahwa saya bukan pacarnya, dan omongan sayang yang ia ucapkan telah berkali-kali kuprotes dan tetap tak diubah olehnya, sampai karenanya saya lelah dan merelakan ia panggil begitu.
Jujur, saya masih tak dapat melupakan lelaki paling biasa namun mengajarkanku banyak hal mengenai hidup, saya mengasihi dia..tulus.
****
Sudah pukul 10 malam ketika kendaraan beroda empat bergerak menuju belokan bersahabat rumahku dan di teras kulihat dia…
“Apaaa..Mama tidak mempersilahkan ia masuk sama sekali??” saya kaget dan bergumam cukup kencang di kendaraan beroda empat alasannya ialah tidak tega melihat ia berteman dengan nyamuk di teras redup kami, dan tak segelas air pun tersaji.
Seketika saya turun dari kendaraan beroda empat dan menghampirinya…
“Jay…maaf, kau kok enggak masuk?” saya bertanya dengan rasa bersalah yang mendalam, Jay ku…ia tak disenangi mama hanya alasannya ialah ia orang biasa tanpa silsilah keluarga, belum lagi harta yang tak ia punya.
“Engga apa-apa…aku bersama-sama ingin ngobrol dengan mama dan papa kamu”…kulihat tangannya menggigil, ia niscaya sudah menunggu di luar teras cukup lama.
Candra si sok kaya malah mencemooh “Mas, sepedanya boleh digeser ga? Bukannya saya ga mau nabrak, tapi saya ga mau kendaraan beroda empat saya lecet”…sindiran paling tajam dan paling menyakitkan yang pernah kudengar, ingin menangis hati ini melihat Jay dengan hening menggeser sepedanya dan memperlihatkan kesabaran…
Aku bersumpah demi Tuhan, tak akan menikahi lelaki moral tumpul macam Candra…
emosi ku tak tertahan juga akhirnya.
“MAMA…tega sekali Jay engga disuruh masuk dari tadi…kenapa sih Ma?” saya sambil mengetuk pintu dan berteriak melawan. Telah habis kesabaranku...
“Biarin saja beliau di luar..ga pantes orang kampung diterima sama Tante Indri…” kalimat yang ‘manis’ dari Candra si orang kaya nan miskin moral.
“Mama cape, kau suruh aja Jay pulang…” Mama kemudian menyahut dengan malas-malasan.
”Maaf tante, saya cuma sebentar..” Jay menjawab dengan pelan…
Aku ingin berteriak lebih kencang…”Ma…”
Namun terputus ketika terdengar bunyi dari dalam rumah yang sedang membuka pintu…
“silahkan nak Jay”…Papa kemudian mempersilahkan Jay masuk, saya kaget sekali, tak biasanya Papa memperlakukan orang-orang terdekatku dengan ibarat itu, Papa lebih banyak membisu ketiimbang memberi komentar mengenai korelasi pribadiku, tidak ibarat mama.
Lantas Jay masuk serta Candra duduk bersebelahan dengan Papa. Papa memang mengenalnya, namun sebatas itu saja, tak lebih… dan kalau agresi sok bersahabat yang Candra lakukan pada Papa, tentu itu improvisasinya…
“Apa yang perlu dibicarakan nak Jay…” papa bernada tenang.
“Aku ingin menikahi Rara pak..” Jay menjawab dengan sedikit kegugupan..
“HAHAHA…om, jangan-jangan beliau habis mabok atau kesambet setan waktu pake sepeda ke sini. yang niscaya mustahil om..” Candra menjawab dengan lantang dan angkuh.
Lantas Papa menjawab “Aku yang harusnya menjawab, bukan kamu. Karena bukan kau yang membesarkannya”. Jawaban itu sungguh dalam dan raut muka Candra berubah semerah-merahnya menahan aib dan marah, alasannya ialah mungkin ia gres kali ini direndahkan ibarat itu.
“Mengapa kau mengatakannya sekarang?” Papa bertanya dalam kapasitasnya sebagai seorang ayah. Aku bingung, senang, duka bercampur menjadi satu. Senang alasannya ialah lelaki penyabar itu karenanya benar ingin menikahiku, sesudah 5 tahun korelasi kami tanpa disetujui mama, dan belasan lelaki kaya yang dikenalkan mama padaku. Namun ia lewati semua itu dengan penuh sabar. Dia lelaki sesungguhnya untukku.
Ketika otakku sedang melayang, kembali kupusatkan konsentrasiku pada pembicaraan mereka: “Yang pertama alasannya ialah saya mengasihi Rara, yang kedua alasannya ialah saya yakin tak akan ada lelaki yang jauh lebih baik mendampinginya daripada aku, yang ketiga alasannya ialah beliau dan hanya beliau yang dapat mengisi hari-hariku…” balasan itu diberikan Jay tanpa keraguan sedikitpun.
“Aku dapat memperlihatkan lebih dan saya dapat menciptakan om dan keluarga kaya raya…” dan Candra karenanya berbicara… kemudian papa melihat Candra cukup lama…lantas berkata: “Keluarga ku lebih berharga dari harta, dan tak akan pernah pula tergadai alasannya ialah harta…” itulah balasan yang menciptakan Candra pergi.
Di dalam kamar terdengar bunyi Mama: “Pokoknya mama engga baiklah Rara nikah dengan Jay, beliau itu enggak punya apa-apa.. Mau ngasih makan apa nanti buat anak cucu kita pa?? Papa sadar donk…”
Jay hanya menunduk seolah aib dengan kondisi diri dan keluarganya yang miskin, saya duka sekali mendengar ucapan mama. Mama belakangan selalu mengecewakan, semenjak Papa pensiun dan penghasilan keluarga kami menurun drastis.
“Ma..lantas kita akan menjual anak kita demi harta, begitu maksud mama??” Papa berteriak kencang sekali sampai mama hanya dapat diam. Papa tidak pernah semarah itu sebelumnya. Dan mama....tak mampu lagi melawan omongan sang kepala rumah tangga…
“Karena saya Bapaknya dan alasannya ialah kau lapang dada mengasihi anakku, silahkan nikahi dia..” Papa karenanya menjawab, saya menangis terharu alasannya ialah sesudah sekian lama, karenanya korelasi kami benar-benar direstui. Dan ternyata papa benar-benar mengerti siapa lelaki yang sempurna untukku.
“Oh ya, satu hal lagi pak… Kalau bapak tidak keberatan, saya ingin menikahi Rara 4 bulan lagi, alasannya ialah terhitung Maret saya akan melanjutkan beasiswa sekolah ke Australia dan saya ingin mengajak Rara ikut serta…”
“Silahkan..” jawab Papa, dan kini ia semakin yakin bahwa pilihannya tepat.
Penulis: Valico
*****
Luar biasa ya Cerita Pendek Cerpen Cinta Motivasi Remaja di atas. Salut sama orang renta yang tidak memandang bahan atau kekayaan dan menghargai ketulusan cinta anaknya. If you believe ... Love will find the way...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar