Cerpen Remaja Islami Terbaru - 'Kusambut Hijrahmu Keke....'
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam,” jawab Keke, si kembar cuek. Masih tetap dengan gaya ngoboynya, celana pendek dan kaos oblong. Itulah pakaian kebangsaan mereka sehari-hari, si kembar Keke dan Kiki. Tapi itu dulu sebelum Kiki faham Islam.
Di mana-mana saudara kembar kurang lebih sifat dan sikapnya hampir mirip, begitu pula Keke dan Kiki. Mereka sama-sama tomboy, terlebih Kiki. Keke cenderung agak kaleman dikit, walaupun nggak beda jauh. Kesukaan mereka sehari-hari manjatin pohon jambu air dan mangga depan rumah jikalau lagi berbuah, main layang-layang di atas genting, perang-perangan, mobil-mobilan dan lain-lain. Pokoknya permainan cowok, mereka mahir. Mainan cewek, anti banget deh. Menurut mereka berdua main sama cewek nyebelin, habis dikit-dikit nangis. Beda banget jikalau main sama cowok.
Tapi bukan berarti mereka nggak pernah nangis lho. Tapi nangisnya bukan alasannya yakni dipukul, namun bila kakak semata wayang murka dan ngancam nggak boleh main lagi sama teman-teman cowoknya. Baru sesudah ibu turut campur, kakak kesudahannya mencabut keputusannya. Tapi jangan menganggap kakak jahat lho, bahkan lantaran sayangnya sama adik kembarnya, kemana-mana mereka selalu diajak. Cuma ke toilet aja yang enggak. Beda umur tiga bersaudara itu, kakak dan si kembar Keke dan Kiki tuh cuma tiga tahun. Hingga jadilah mereka menyerupai ini. Bapak dan ibu sih enggak terlalu ambil pusing, yang penting mereka rukun.
Segalanya mulai berubah terutama bagi Kiki, tatkala menginjak dingklik SMU. Keke diterima di SMU negeri sedangkan Kiki gagal meski nilai ujian masuk mereka cuma beda koma. Saat itulah Kiki kembali menangis, semenjak empat tahun yang kemudian ketika tangisan mereka tertumpah untuk maut kucing kesayangan yang tertabrak mobil.
Saat itu Kiki tidak sanggup membayangkan berpisah dengan saudara kembarnya, walaupun cuma sekolah. Mereka telah terbiasa bersama-sama. Tapi itulah yang terjadi. Keluarga mereka pun bukan tipe yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Tidak diterima SMU Negeri ya SMU swasta resikonya. Saat itu Keke menghibur saudara kembarnya itu bahwa sekolah swasta juga tidak kalah elok mutunya dibandingkan dengan sekolah negeri. Akhirnya Kiki sekolah juga dengan berat hati demi mengejar selembar ijazah.
Wajah Keke selalu ceria tiap berangkat sekolah, terlebih sesudah masuk anggota Pecinta Alam (PA) sekolahnya. Kiki hanya sanggup gigit jari lantaran ekskul yang sama di sekolahnya sama sekali nggak maju dan cenderung hidup enggan mati pun tak mau. Hingga suatu hari Jum’at, Keke minta berangkat lebih awal lantaran akan ada latihan perhiasan dan pembekalan anggota PA di sekolahnya. Karena kakak nggak mau bolak-balik nganterin Keke, terus balik lagi nganterin Kiki ke sekolah, maka dengan terpaksa Keke ikutan berangkat lebih awal (Keke dan Kiki sama-sama masuk siang soalnya).
Seperti dugaan Kiki, ketika tiba di sekolah suasana masih sepi. Teman-teman belum pada datang, sedangkan kelas dua dan tiga lantaran hari Jum’at, mereka pulang lebih awal. Hanya ada sebagian siswa putra duduk-duduk dekat AULA sekolah sambil menunggu sholat Jum’at dimulai. Daripada termangu sendirian, Kiki memutuskan untuk melihat-lihat mading rohis dekat musholla. Ternyata di sana ada Rina dan Zaza.
“Tumben Ki, tiba lebih awal,” sapa Zaza.
“He eh,” jawab Kiki pendek.
“Kalian sendiri ada program apa di Musholla?” lanjutnya.
“Lho tiap Jum’at kan ada pengajian putri,” jawab Zaza sambil melepas sepatunya.
“Ikutan yuk!” ajak Rina.
“Malas ah. Paling juga isinya cuma ceramah perintah sholat, zakat, puasa. Kalau itu sih Kiki juga udah tahu.”
“Eh Kiki, belum apa-apa sudah su’udzon. SMU tuh bukan lagi bahan itu, anak SD juga tahu jikalau cuma begituan. Sekarang tuh materinya pendalaman wacana Islam, menyerupai pembahasan mengenai tujuan hidup, perang pemikiran, mengetahui siasat musuh Islam dalam upayanya menjauhkan kita dari islam yang sebenarnya, cukup umur ngomong politik, cara berpakaian muslimah dan tata cara pergaulan dan lain-lain. Tuh, kau termangu kan.”
“Pokoknya ditanggung baiklah deh,” timpal Rina.
“Kalau enggak?” tanya Kiki setengah ragu.
“Dicoba dulu gres beli,” promosi Zaza dan Rina menirukan iklan di TV.
Sejak dikala itulah Kiki jadi rajin ke rohis. Hingga satu hari, beberapa ahad sesudah aktif ikut kajian, Kiki jadi tahu bahwa jilbab dan kerudung yakni pakaian muslimah
Sejak dikala itulah Kiki jadi rajin ke rohis. Hingga satu hari, beberapa ahad sesudah aktif ikut kajian, Kiki jadi tahu bahwa jilbab dan kerudung yakni pakaian muslimah. Dan bukan kaos oblong plus celana pendek menyerupai pakaian kebangsaan mereka sehari-hari itu. Kiki pun butuh waktu untuk memahami serta merubah seluruh hal dalam hidupnya. Hobi panjat pohon mangga depan rumah, ikut main bola dan layang-layang di lapangan sebelah, bahkan kadang laga juga sama anak tetangga. Tapi itu juga kalo terpaksa kok.
Sedikit demi sedikit Kiki mulai beli kerudung diam-diam. Menjahitkan baju untuk jilbab, baju panjang saluran hingga menutup kaki plus kaos kakinya juga. Hingga satu malam, ketika papa, mama, Keke, dan kakak mereka, Koko kumpul di ruang makan, Kiki merasa kini saatnya.
“Ma, Pa, Mas Koko, dan juga Keke, ada yang ingin saya infokan. Insya Allah mulai dikala ini, Kiki akan istiqomah menggunakan kerudung dan jilbab bila keluar rumah.”
Suasana hening.
“Alhamdulillah, syukurlah jikalau Kiki memang ingin berjilbab,” bunyi mama terdengar lega. Beliau memang yang paling khawatir dengan perkembangan putri kembarnya yang cenderung tomboy dan cuek. Keputusan Kiki disambutnya dengan suka cita.
“Papa juga mendukung jikalau memang itu sudah keputusan Kiki. Cuma satu yang papa pesan, sesudah berjilbab tolong dijaga perilaku dan tingkah lakunya. Papa gak suka lihat berjilbab tapi norak.”
“Wah…Kiki jadi kayak ninja dong nanti,” protes kakak semata wayang, Koko.
“Kok kayak ninja?”
“Iya, semua tertutup kecuali matanya aja. Udah gitu, warnanya item-item bajunya. Persis ninja kan.”
“Wajah dan telapak tangan bukan aurat, jadi nanti Mas Koko tetap sanggup lihat wajah Kiki. Lagipula jilbab dan kerudungnya nanti juga bakal warna-warni tapi tetap syar’i kok. Jangan khawatir,” terang Kiki sambil tersenyum. Pandangannya beralih ke saudara kembarnya yang hambar (atau pura-pura-kah?) dengan semua percakapan wacana keputusannya menutup aurat.
“Keke, is there something you wanna say, sis?” menyerupai biasa bahasa Inggris terselip di antara percakapan mereka.
“No comment aja. Suka-suka kamulah,” jawab Keke singkat sambil terus mengunyah ayam goreng di mulutnya. Kalimat itu terdengar hambar dan suka-suka menyerupai kelihatannya, tapi Kiki menangkap ada nada lain di bunyi saudara kembarnya itu. Dengan sayang, dipandangnya Keke di seberang meja yang terus asyik dengan ayam goreng di tangannya. Apa yang ada di benak seseorang yang serasa satu hati dengan dirinya itu? Mereka tak terbiasa berbeda, dan tetap terselip rasa ‘aneh’ itu ketika kesudahannya Kiki memutuskan untuk berbeda dari sebelumnya.
Di kamar tidur sesudah makan malam, Keke tengkurap di ranjangnya sambil mengerjakan PR. Headset walkman pun menutupi kedua telinganya. Sejak kejadian di meja makan itu, selalu begitu perilaku Keke bila di dalam kamar. Kiki yang sekamar dengannya, tak ada kesempatan buat ngobrol dan berbincang dengannya. Bagaimana pun Keke juga berhak tahu wacana detil keputusannya. Dan bila memungkinkan, ingin rasanya Kiki mengajak saudara kembarnya itu untuk sama-sama ‘hijrah’, berubah jadi yang lebih baik.
Dihampirinya Keke di ranjangnya, disentuhnya pundak itu.
“Gue sibuk Ki, eluh urusin sendiri diri kau sendiri,” tanpa menoleh, Keke berkata ketus sambil terus mengerjakan tugasnya.
“Please Ke, akhir-akhir ini sikapmu menyerupai menganggapku tak ada di ruangan ini,” Kiki terpaksa merenggangkan headphone Keke biar suaranya terdengar. Dan benar, Keke melepasnya.
“Menganggapmu tak ada di ruangan ini? Masih mending kan itu hanya di ruang ini. Tapi kau Ki, kau menganggap saya tak ada dalam kehidupanmu,” tandas Keke sebelum keluar ruangan dan membanting pintu di belakangnya. Kiki termangu dengan rasa murung yang tak terhingga.
****
Siang itu Keke pulang sekolah diantar oleh sahabat cowoknya. Ia pun dibonceng di belakang motor dengan posisi duduk anak perjaka sehingga rok sekolahnya tersingkap. Kiki yang pulang sekolah lebih awal lantaran ada rapat di sekolahnya, terkesiap melihat kembarannya. Mereka memang tomboy, tapi mereka tak gampang untuk dibonceng perjaka sedemikian rupa. Ketomboy-an seharusnya makin membuatnya mandiri.
Cowok itu menunggu di depan rumah dan tidak turun dari motornya. Sepertinya sedang menunggu Keke. Benar saja, beberapa menit kemudian Keke keluar dengan celana pendek dan kaos oblong.
“Mau ke mana Ke?”
“Bukan urusanmu,” jawab Keke ketus sambil naik membonceng lagi di motor itu. Tangannya melingkar di pinggang perjaka itu, seolah-olah ingin bersikap over react di depan Kiki, saudara kembarnya. Kiki pun beristighfar di tengah kepulan asap knalpot yang tersisa. Kiki tahu Keke, menyerupai ia memahami dirinya sendiri. Mereka yakni satu, terlepas ada perbedaan yang semakin meruncing akhir-akhir ini.
Keke pulang larut malam itu. Masuk kamar eksklusif rebah di ranjang.
“Sudah sholat Ke?” Tanya Kiki berusaha bersahabat. Tak ada balasan dari Keke, seolah-olah tak ada bunyi yang mengajaknya berbicara. Ia tidur menghadap tembok tanpa berganti pakaian. Dengan sabar Kiki menghampiri ranjang Keke dan menyelimuti badan itu dengan kain. Sebelum beranjak, berusaha dikecupnya kening saudaranya itu. Keke melengos dan menutup wajahnya dengan bantal.
Di sepertiga malam, ketika Kiki berkemas-kemas untuk sholat tahajud, didengarnya bunyi isakan yang sangat lirih. Keke menangis? Setengah tak percaya Kiki menajamkan pendengarannya sebelum melangkah ke ranjang Keke. Disentuhnya pundak itu. Diam. Tak bergerak. Ada alunan lembut pundaknya dari hembusan nafas yang dihirup dan dihembuskannya lagi. Dilihatnya Keke tidur dengan tenang, meski masih tetap menghadap dinding. Kebiasaan gres Keke semenjak Kiki memutuskan berubah.
Lalu bunyi isak siapakah tadi? Setelah termenung beberapa saat, Kiki memutuskan beranjak untuk sholat. Diciumnya pipi saudara kembarnya itu sebelum pergi. Basah. Berarti isakan tadi bukan hanya di benaknya saja. Keke menangis sebelum tertidur. Ada yang lembap di mata Kiki. Apa yang membuatmu sedih, saudara kembarku? Bisiknya lirih. Aku ingin kita sanggup dekat menyerupai dulu lagi. Aku ingin kita melangkah bersama dan berubah untuk kebaikan bersama pula, sama menyerupai kita selalu bahu-membahu semenjak dalam kandungan. Apa yang membuatmu bertahan untuk tak mau berubah? Dikecupnya kening Keke dan dibisikkannya ‘aku sayang kamu, Ke’.
******
Keke kecelakaan!
Berita itu cukup menggoncang Kiki ketika pulang sekolah didapatinya rumah sepi dan hanya ada pembantu yang memberitahunya. Dengan kalut ditelponnya taksi untuk mengantar ke rumah sakit kawasan Keke dirawat. Mas Koko dan mama ada di sana pula. Papa kebetulan lagi dinas luar kota dan sudah dikabari untuk segera pulang.
Syukurlah luka Keke tak begitu parah. Goresan di lutut saja yang cukup parah meski tak hingga patah. Kemudian lengannya lecet-lecet, dan benturan sedikit di kepalanya. Untungnya helm yang digunakan Keke cukup besar lengan berkuasa menahan kepalanya sehingga tak ada luka serius. Dikecupnya kening Keke dengan penuh sayang. Tak sengaja pandangan Kiki terarah ke bungkusan di samping ranjang Keke. Dibukanya. Kerudung biru. Kerudung? Apakah Keke…? Dipandangnya saudara kembarnya itu, dengan setengah tak percaya. Tiba-tiba ada rasa bersalah yang menggumpal dalam dada Kiki.
Betapa Kiki gres menyadari bahwa selama ini ia telah menelantarkan saudara kembarnya sendiri. Dirinya sibuk dengan begitu banyak acara di sekolah dan rohis. Ia hanya ingin Keke berubah menyerupai dirinya tanpa ada upaya untuk membimbingnya. Dan kini…Keke harus terluka untuk sebuah niat suci yang tak pernah ia tahu andai kejadian ini tak terjadi. Digenggamnya jemari Keke, dikecupnya. Dibisikkan lirih di pendengaran belahan jiwanya itu ‘maafkan aku’.
* TAMAT *
Semoga sahabat Kumpulan Kata Mutiara Cinta Remaja ya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar